Kamis, 15 Agustus 2013

SEJARAH TONGGAK NUSANTARA DI ZAMAN PRASEJARAH

ASAL-USUL NUSANTARA


Wilayah utama daratan Nusantara terbentuk dari dua ujung Superbenua Pangaea di Era Mesozoikum (250 juta tahun yang lalu), namun bagian dari lempeng benua yang berbeda. Dua bagian ini bergerak mendekat akibat pergerakan lempengnya, sehingga di saat Zaman Es terakhir telah terbentuk selat besar di antara Paparan Sunda di barat dan Paparan Sahul di timur. Pulau Sulawesi dan pulau-pulau di sekitarnya mengisi ruang di antara dua bagian benua yang berseberangan. Kepulauan antara ini oleh para ahli biologi sekarang disebut sebagai Wallacea, suatu kawasan yang memiliki distribusi fauna yang unik. Situasi geologi dan geografi ini berimplikasi pada aspek topografi, iklim, kesuburan tanah, sebaran makhluk hidup (khususnya tumbuhan dan hewan), serta migrasi manusia di wilayah ini.
Bagian pertemuan Lempeng Eurasia di barat, Lempeng Indo-Australia di selatan, dan Lempeng Pasifik di timur laut menjadi daerah vulkanik aktif yang memberi kekayaan mineral bagi tanah di sekitarnya sehingga sangat baik bagi pertanian, namun juga rawan gempa bumi. Pertemuan lempeng benua ini juga mengangkat sebagian dasar laut ke atas mengakibatkan adanya formasi perbukitan karst yang kaya gua di sejumlah tempat. Fosil-fosil hewan laut ditemukan di kawasan ini.
Nusantara terletak di daerah tropika, yang berarti memiliki laut hangat dan mendapat penyinaran cahaya matahari terus-menerus sepanjang tahun dengan intensitas tinggi. Situasi ini mendorong terbentuknya ekosistem yang kaya keanekaragaman makhluk hidup, baik tumbuhan maupun hewan. Lautnya hangat dan menjadi titik pertemuan dua samudera besar. Selat di antara dua bagian benua (Wallacea) merupakan bagian dari arus laut dari Samudera Hindia ke Samudera Pasifik yang kaya sumberdaya laut. Terumbu karang di wilayah ini merupakan tempat dengan keanekaragaman hayati sangat tinggi. Kekayaan alam di darat dan laut mewarnai kultur awal masyarakat penghuninya. Banyak di antara penduduk asli yang hidup mengandalkan pada kekayaan laut dan membuat mereka memahami navigasi pelayaran dasar, dan kelak membantu dalam penghunian wilayah Pasifik (Oseania).
Benua Australia dan perairan Samudera Hindia dan Pasifik di sisi lain memberikan faktor variasi iklim tahunan yang penting. Nusantara dipengaruhi oleh sistem muson dengan akibat banyak tempat yang mengalami perbedaan ketersediaan air dalam setahun. Sebagian besar wilayah mengenal musim kemarau dan musim penghujan. Bagi pelaut dikenal angin barat (terjadi pada musim penghujan) dan angin timur. Pada era perdagangan antarpulau yang mengandalkan kapal berlayar, pola angin ini sangat penting dalam penjadwalan perdagangan.
Dari sudut persebaran makhluk hidup, wilayah ini merupakan titik pertemuan dua provinsi flora dan tipe fauna yang berbeda, sebagai akibat proses evolusi yang berjalan terpisah, namun kemudian bertemu. Wilayah bagian Paparan Sunda, yang selalu tidak jauh dari ekuator, memiliki fauna tipe Eurasia, sedangkan wilayah bagian Paparan Sahul di timur memiliki fauna tipe Australia. Kawasan Wallacea membentuk "jembatan" bagi percampuran dua tipe ini, namun karena agak terisolasi ia memiliki tipe yang khas. Hal ini disadari oleh sejumlah sarjana dari abad ke-19, seperti Alfred Wallace, Max Carl Wilhelm Weber, dan Richard Lydecker. Berbeda dengan fauna, sebaran flora (tumbuhan) di wilayah ini lebih tercampur, bahkan membentuk suatu provinsi flora yang khas, berbeda dari tipe di India dan Asia Timur maupun kawasan kering Australia, yang dinamakan oleh botaniwan sebagai Malesia. Migrasi manusia kemudian mendorong persebaran flora di daerah ini lebih jauh dan juga masuknya tumbuhan dan hewan asing dari daratan Eurasia, Amerika, dan Afrika pada masa sejarah.

Zaman prasejarah

Fosil-fosil Homo erectus yang ditemukan di beberapa tapak di Jawa menunjukkan kemungkinan kontinuitas populasi mulai dari 1,7 juta tahun (Sangiran) hingga 50.000 tahun yang lalu (Ngandong). Rentang waktu yang panjang menunjukkan perubahan fitur yang berakibat pada dua subspesies berbeda (H. erectus paleojavanicus yang lebih tua daripada H. erectus soloensis). Swisher (1996) mengajukan tesis bahwa hingga 50.000 tahun yang lalu mereka telah hidup sezaman dengan manusia modern H. sapiens. [1]
Migrasi H. sapiens (manusia modern) masuk ke wilayah Nusantara diperkirakan terjadi pada rentang waktu antara 70 000 dan 60 000 tahun yang lalu. Masyarakat berfenotipe Austrolomelanesoid, yang kelak menjadi moyang beberapa suku pribumi di Semenanjung Malaya (Semang), Filipina (Negrito), Aborigin Australia, Papua, dan Melanesia, memasuki kawasan Paparan Sunda. Mereka kemudian bergerak ke timur. Gua Niah di Sarawak memiliki sisa kerangka tertua yang mewakili masyarakat ini (berumur sekitar 60 sampai 50 ribu tahun). Sisa-sisa tengkorak ditemukan pula di gua-gua daerah karst di Jawa (Pegunungan Sewu). Mereka adalah pendukung kultur Paleolitikum yang belum mengenal budidaya tanaman atau beternak dan hidup meramu (hunt and gathering).
Penemuan seri kerangka makhluk mirip manusia di Liang Bua, Pulau Flores, membuka kemungkinan adanya spesies hominid ketiga, yang saat ini dikenal sebagai H. floresiensis.
Selanjutnya kira-kira 2500 tahun sebelum Masehi, terjadi migrasi oleh penutur bahasa Austronesia dari Taiwan ke Filipina, kemudian ke selatan dan Indonesia, dan ke timur ke Pasifik. Mereka adalah nenek moyang suku-suku di wilayah Nusantara.
Orang Austronesia ini paham cara bertani, ilmu pelayaran bahkan astronomi. Mereka juga sudah memiliki sistem tata pemerintahan sederhana serta memiliki pemimpin (raja kecil). Kedatangan imigran dari India pada abad-abad akhir Sebelum Masehi memperkenalkan kepada mereka sistem tata pemerintahan yang lebih maju (kerajaan).

Penemuan masa Prasejarah Nusantara

  1. Situs Pangguyangan, Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat
  2. Situs Cipari, Kuningan, Jawa Barat
  3. Situs Goa Pawon, Bandung, Jawa Barat
  4. Situs Gunungpadang, Cianjur, Jawa Barat
  5. Situs Gilimanuk, Jembrana, Bali
  6. Liang Bua, Pulau Flores
  7. Gua Leang-leang, Sulawesi
  8. Situs Gua Perbukitan Sangkulirang, Kutai Timur
  9. Situs Pasemah di Lampung
  10. Gua Babi di Gunung Batu Buli, desa Randu, Muara Uya, Tabalong
  11. Situs Gua-gua Biak, Papua [40. 000-30. 000 SM]
  12. Situs Lukisan tepi pantai di Raja Ampat, Papua Barat
  13. Situs Tutari, Kabupaten Jayapura, [periode Megalitikum]
  14. Situs Gua Putri, Baturaja, Sumatera Selatan
  15. Lembah Sangiran, sekarang menjadi Taman Purbakala Sangiran
  16. Situs Purbakala Wajak, Tulungagung
Sejarah geologi Nusantara memengaruhi flora & fauna, termasuk makhluk mirip manusia yg pernah menghuni wilayah ini. Sebagian daratan Nusantara dulu merupaken dasar laut, seperti wilayah pantai selatan Jawa & Nusa Tenggara. Aneka fosil hewan laut ditemukan di wilayah ini. Daerah ini dikenal sebagai daerah karst yg terbentuk dari endapan kapur terumbu karang purba.
Endapan batu bara di wilayah Sumatera & Kalimantan memberi indikasi pernah adanya hutan dari masa Paleozoikum.
Laut dangkal di antara Sumatera, Jawa [termasuk Bali], & Kalimantan, serta Laut Arafura & Selat Torres ialah perairan muda yg baru mulai terbentuk kala berakhirnya Zaman Es terakhir [hingga 10. 000 tahun sebelum era moderen]. Inilah yg menyebabkan mengapa ada banyak kemiripan jenis tumbuhan & hewan di antara ketiga pulau besar tersebut.
Flora & fauna di ketiga pulau tersebut memiliki kesamaan dengan daratan Asia [Indocina, Semenanjung Malaya, & Filipina]. Harimau, gajah, tapir, kerbau, babi, badak, & berbagai unggas yg hidup di Asia daratan banyak yg memiliki kerabat di ketiga pulau ini.
Makhluk mirip manusia [hominin] yg menghuni Nusantara yg diketahui ialah manusia Jawa. Fosil dari satu bagian tengkorak Pithecanthropus erectus ditemukan pada tahun 1891 oleh Eugene Dubois di Trinil, Kabupaten Ngawi. Sejak 1934, G. H. R. von Koenigswald beserta timnya menemukan serangkaian fosil hominin di lembah sepanjang Bengawan Solo, yaitu di Sangiran & Ngandong serta di tepi Sungai Brantas di dekat Mojokerto. Para ahli paleontologi sekarang kebanyakan berpendapat bahwa semua fosil temuan dari Jawa ialah Homo erectus & merupaken bentuk yg primitif. Semula diduga berumur 1. 000. 000 sampai 500. 000 tahun [pengukuran karbon tak memungkinkan], kini berdasarkan pengukuran radiometri terhadap mineral vulkanik pada lapisan penemuan diduga usianya lebih tua, yaitu 1,7-1,5 juta tahun.
Homo sapiens moderen pertama masuk ke Nusantara diduga sekitar 100. 000 tahun lalu, melalui India & Indocina. Fosil Homo sapiens pertama di Jawa ditemukan oleh van Rietschoten [1889], anggota tim Dubois, di Wajak, dekat Campurdarat, Tulungagung, di tepian Sungai Brantas. Ia ditemukan bersamaan dengan tulang tapir, hewan yg pada masa kini tak hidup di Jawa. Fosil Wajak dianggap bersamaan ras dengan fosil Gua Niah di Sarawak & Gua Tabon di Pulau Palawan. Fosil Niah diperkirakan berusia 40. 000-25. 000 tahun [periode Pleistosen] & menunjukkan fenotipe “Australomelanesoid”. Mereka ialah pendukung budaya kapak perimbas [chopper] & termasuk dlm kultur paleolitikum [Zaman Batu Tua].
Pengumuman pada tahun 2003 tentang penemuan Homo floresiensis yg dianggap sebagai spesies Homo primitif oleh para penemunya memantik perdebatan baru mengenai kemungkinan adanya spesies mirip manusia yg hidup dlm periode yg bersamaan dengan H. sapiens, karena hanya berusia 20. 000-10. 000 tahun sejak era moderen & tak terfosilisasi. Hal ini bertentangan dengan anggapan sebelumnya yg menyatakan bahwa hanya H. sapiens yg bertahan di Nusantara pada masa itu. Perdebatan ini belum tuntas, karena penentangnya menganggap H. floresiensis ialah H. sapiens yg menderita penyakit sehingga berukuran katai.
Diorama di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, menampilkan model ukuran sebenarnya pemburu bersenjata alat batu, keluarga Homo erectus hidup di Sangiran sekitar 900. 000 tahun yg lalu. Bukti-bukti Homo sapiens pertama diketahui dari tengkorak & sisa-sisa tulang hominin di Wajak, Gua Niah [Serawak], serta temuan-temuan baru di Pegunungan Sewu sejak awal paruh kedua abad ke-20 sampai sekarang, membentang dari Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, sampai kawasan Teluk Pacitan, Kabupaten Pacitan. Temuan di Wajak, yg pertama kali ditemukan sulit ditentukan penanggalannya, namun fosil di Gua Niah menunjukkan usia sekitar 40. 000 tahun yg lalu. Usia fosil utuh di Gua Braholo [Gunungkidul, ditemukan tahun 2002] & Song [Gua] Keplek & Terus [Pacitan] berusia lebih muda [sekitar 10. 000 tahun sebelum era moderen atau tahun 0 Masehi]. Pendugaan ini berasal dari bentuk perkakas yg ditemukan menyertainya.
Walaupun berasal dari masa budaya yg berbeda, fosil-fosil itu menunjukkan ciri-ciri Austromelanesoid, suatu subras dari ras Negroid yg sekarang dikenal sebagai penduduk asli Pulau Papua, Melanesia, & Benua Australia. Teori mengenai asal-usul ras ini pertama kali dideskripsikan oleh Fritz & Paul Sarasin, dua sarjana bersaudara [sepupu satu sama lain] asal Swiss di akhir abad ke-19. Dalam kajiannya, mereka melihat kesamaan ciri antara orang Vedda yg menghuni Sri Lanka dengan beberapa penduduk asli berciri sama di Asia Tenggara kepulauan & Australia.

Neolitikum

Batu yg diasah ialah bukti peradaban neolitik, misalnya mata kapak batu & mata cangkul batu yg diasah. Batu yg diasah & dihaluskan ini dikembangkan oleh orang-orang Austronesia yg menghuni kepulauan Indonesia. Pada periode ini pula berkembang struktur batu besar atau megalitik di Nusantara.

Paleolitikum

Homo erectus diketahui menggunakan alat batu kasar khas paleolitik & juga alat yg terbuat dari cangkang kerang, hal ini berdasarkan temuan di Sangiran & Ngandong. Analisis bekas irisan pada fosil tulang mamalia yg berasal dari era Pleistosen mencatat 18 luka bekas irisan akibat alat serpihan cangkang kerang saat menyembelih lembu purba, ditemukan pada formasi Pucangan di Sangiran yg berasal dari kurun 1,6 sampai 1,5 juta tahun lalu. Tanda bekas irisan pada tulang ini menunjukkan penggunaan alat batu pertama yg menunjukkan bukti tertua penggunaan alat serpihan cangkang kerang yg ditajamkan di dunia.

Megalitikum

Masyarakat di pulau Nias di Indonesia tengah memindahkan sebuah megalit ke kawasan pembangunan, sekitar tahun 1915.
Monolitik Toraja sekitar tahun 1935. Nusantara ialah rumah bagi banyak situs megalitik bangsa Austronesia pada masa lalu sampai masa kini. Beberapa struktur megalitik telah ditemukan, misalnya menhir, dolmen, meja batu, patung nenek moyang, & piramida berundak yg lazim disebut Punden Berundak. Struktur megalitik ini ditemukan di Jawa, Sumatera, Sulawesi, & Kepulauan Sunda Kecil. Punden berundak & menhir ditemukan di situs megalitik di Pagguyangan, Cisolok & Gunung Padang, Jawa Barat. Situs megalitik Cipari yg juga ditemukan di Jawa Barat menunjukkan struktur monolit, teras batu, & sarkofagus. Punden berundak ini dianggap sebagai strukstur asli Nusantara & merupaken rancangan dasar bangunan candi pada zaman kerajaan Hindu-Buddha Nusantara sesudah penduduk lokal menerima pengaruh peradaban Hindu-Buddha dari India. Candi Borobudur dari abad ke-8 & candi Sukuh dari abad ke-15 tak ubahnya ialah struktur punden berundak.
Di Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah, ditemukan beberapa relik megalitik yg menampilkan patung nenek moyang. Kebanyakan terletak di lembah Bada, Besoa, & Napu. Tradisi megalitik yg hidup tetap bertahan di Nias, pulau yg terisolasi di lepas pantai barat Sumatera, Kebudayaan Batak di pedalaman Sumatera Utara, pulau Sumba di Nusa Tenggara Timur, serta kebudayaan Toraja di pedalaman Sulawesi Selatan. Tradisi megalitik ini tetap bertahan, terisolasi, & tak terusik sampai akhir abad ke-19.

Zaman Perunggu

Kebudayaan Dong Son menyebar ke Indonesia membawa teknik peleburan & pembuatan alat logam perunggu, pertanian padi lahan basah, ritual pengorbanan kerbau, praktik megalitik, & tenun ikat. Praktik tradisi ini ditemukan di masyarakat Batak & Toraja serta beberapa pulau di Nusa Tenggara. Artifak peradaban ini ialah gendang perunggu Nekara yg ditemukan di seantore Nusantara serta kapak perunggu upacara.

Sistem kepercayaan

Warga Indonesia purba ialah penganut animisme & dinamisme yg memuliakan roh alam & roh nenek moyang. Arwah Leluhur yg telah meninggal dunia dipercaya masih memiliki kekuatan spiritual & mempengaruhi kehidupan keturunannya. Pemuliaan terhadap arwah nenek moyang menyebar luas di masyarakat kepulauan Nusantara, mulai dari masyarakat Nias, Batak, Dayak, Toraja, & Papua. Pemuliaan ini misalnya diwujudkan dlm upacara sukuran panen yg memanggil roh dewata pertanian, sampai upacara kematian & pemakaman yg rumit untuk mempersiapkan & mengantar arwah orang yg baru meninggal menuju alam nenek moyang. Kuasa spiritual tak kasat mata ini dikenali sebagai hyang di Jawa & Bali & sampai kini masih dimuliakan dlm agama Hindu Dharma Bali.
Mata pencaharian & penghidupan masyarakat prasejarah di Indonesia berkisar antara kehidupan berburu & meramu masyarakat hutan, sampai kehidupan pertanian yg rumit, dengan kemampuan bercocok tanam padi-padian, memelihara hewan ternak, sampai mampu membuat kerajinan tenun & tembikar. Kebudayaan Buni berupa budaya tembikar berkembang di pantai utara Jawa Barat & Banten sekitar 400 SM sampai 100 M. Kebudayaan Buni mungkin merupaken pendahulu kerajaan Tarumanagara, salah satu kerajaan Hindu tertua di Indonesia yg menghasilkan banyak prasasti yg menandai awal berlangsungnya periode sejarah di pulau Jawa.
Kondisi pertanian yg ideal memungkinkan upaya bercocok tanam padi lahan basah [sawah] mulai berkembang sekitar abad ke-8 SM. memungkinkan desa & kota kecil mulai berkembang pada abad pertama Masehi. Kerajaan ini yg lebih mirip kumpulan kampung yg tunduk kepada seorang kepala suku, berkembang dengan kesatuan suku bangsa & sistem kepercayaan mereka. Iklim tropis Jawa dengan curah hujan yg cukup banyak & tanah vulkanik memungkinkan pertanian padi sawah berkembang subur. Sistem sawah membutuhkan masyarakat yg terorganisasi dengan baik dibandingkan dengan sistem padi lahan kering [ladang] yg lebih sederhana sehingga tak memerlukan sistem sosial yg rumit untuk mendukungnya.

#Sumber : http://id.wikipedia.org 

0 komentar:

Posting Komentar